Minggu, 12 September 2010

PENUNDUKAN DIRI ADALAH KEBERHASILAN

“Rendahkanlah dirimu dihadapan TUHAN, dan Ia akan meninggikan kamu”
(Yoh 4 : 10)


Banyak anak-anak Tuhan yang kecewa dan kepahitan dengan pemimpin-pemimpin mereka , karena cara pandang dan cara berpikir yang salah. Cara pandang yang dengan kacamata yang disodorkan oleh iblis untuk tidak menghormati dan menghargai pemimpinnya, cenderung memutuskan untuk memberontak kepada pemimpin mereka.

Tata cara berhubungan dengan pemimpin harus melihat dengan cara pandang Allah, yaitu merendahkan diri dihadapan Allah. Merendahkan diri adalah menuruti perilaku, hormat dan penundukan diri untuk menuju keberhasilan. Saudara harus mengikuti bagaimana menghormati dan merendahkan diri dalam sebuah kepemimpinan. Contoh : Samuel punya banyak alasan untuk tidak menghormati pemimpinnya, bahkan untuk melecehkan imam Eli beserta anak-anaknya karena berdosa di hadapan Tuhan. Samuel asisten imam Eli tidak sekalipun menaikkan dirinya di hadapan Tuhan dan tidak menghujat pimpinannya maka Allah meninggikan Samuel menjadi Nabi.

Semakin kita melakukan dan mengerti tentang hormat dan penundukan diri, maka semakin tinggi Tuhan mengangkat kita. Tongkat kepemimpinan diserahkan sebagai wujud tanggung jawab kita ke depan. Ada tiga pesan singkat dalam kepemimpinan ke depan :

1. Ketaatan
Ketaatan membawa engkau naik dan tidak turun. Ketaatan adalah sebuah kunci untuk membuka Pintu Berkat. Harga sebuah ketaatan memang tidak murah, tapi sangat berharga untuk di bayar. Ketaatan itu mutlak, karena mustahil mengasihi Tuhan tanpa ketaatan. Ketaatan Abraham melakukan perintah Tuhan membuat dia menjadi Bapa segala bangsa dan sangat kaya (Kejadian 12:1-3). Abraham taat meninggalkan kota Haran tempat kelahirannya, tempat dia dibesarkan tunduk melakuka, kota kenangan yang dibangun oleh nenek moyangnya karena tunduk melakukan perintah Tuhan. Taat merupakan bagian dari penundukan diri yang tinggi membuat Abraham berhasil dan sangat kaya (Kejadian 13:2).

2. Suka Berdamai dan Hindari Konflik
Hindari konflik lakukan tindakan musyawarah dan mufakat dalam damai. Berdamai adalah kejadian hukum yang sah dan tidak dapat di ganggu gugat oleh siapapun. Abraham memilih berdamai dan menghindari konflik (Kej.13:8-9). Orang yang suka berdamai ada masa depan. Suka berdamai dan mengampuni semua pribadi dan starata sosial. Kasih Allah memulihkan hubungan dengan manusia yang berdosa. Kasih adalah otoritas hubungan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain

3. Otoritas
Otoritas adalah bagian dari keintiman. Otoritas ditentukan ketika hati kita bertemu dengan Tuhan. Otoritas menghasilkan kuasa (power). Jika Saudara melayani Tuhan ketahuilah bahwa otoritas dari Tuhan akan mengalir pada saudara. Fokusnya adalah berhubungan dengan Allah setiap hari, berdoa dengan tidak jemu-jemu. Hati yang penuh cinta dan suka menyembah adalah koneksitas dengan Tuhan untuk menerima otoritas. Penyembahan adalah obsesi hidup untuk mendapat otoritas sebagai umat yang terpilih imamat yang rajani (1Pet.2:9). Jadi otoritas diberikan kepada orang yang bisa dipercaya dan bisa menguasai dirinya. Hanya dekat Allah saja tenang, karena Allah ingin memberikan otoritas kepada orang yang intim denganNya. Seperti Maria duduk diam di kaki Yesus dan mendengarkan perkataan-Nya (Lukas 10:39 ) dan Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya (Luk.10: 42) .

Demikian orang-orang yang merendahkan dirinya akan ditinggikan Allah. Orang yang rendah hati pasti menundukkan dirinya seperti pelayan dihadapan Tuhan. Menundukkan diri dan merendahkan diri adalah keberhasilan menuju masa depan penuh pengharapan.


(Khotbah; Pdt. Stepanus Pasaribu, SE, STh, Msi., pada ibadah PW BKAG sekota Bontang, 9 September 2010)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar